Cinta adalah kekuatan
Yang mampu
Mengubah duri jadi mawar
Mengubah cuka jadi anggur
Mengubah
Mengubah sedih jadi riang
Mengubah setan jadi nabi
Mengubah iblis jadi malaikat
Mengubah sakit jadi sembuh
Mengubah kikir jadi dermawan
Mengubah kandang jadi taman
Mengubah penjara jadi istana
Mengubah amarah jadiramah
Mengubah musibah jadi muhibah
Itulah cinta
(Husna dalam Ketika Cinta Bertasbih – diadaptasi dari puisi Rumi dalam Masnawinya)
Sekalipun cinta kuuraikan dan kujelaskan panjang lebar
Namun jika cinta kudatangi aku jadi malu pada keteranganku sendiri
Meskipun lidahku telah mampu menguraikan dengan terang.
Namun tanpa lidah, cinta ternyata lebih terang.
Sementara pena begitu tergesa-gesa menuliskannya.
Kata-kata pecah berkeping-keping begitu sampai kepada cinta.
Dalam menguraikan cinta, akal terbaring tak berdaya. Bagaikan keledai terbaring dalam Lumpur.
Cinta sendirilah yang menerangkan cinta
Dan percintaan
(Anna Althafunnisa dalam Ketika Cinta Bertasbih – petikan puisi Rumi dalam Diwan Shamsi Tabriz)
Cinta tak memberikan apa-apa kecuali dirinya sendiri
Dan tiada mengambil apa pun kecuali dari dirinya sendiri.
Cinta tiada memiliki, pun tiada ingin dimiliki;
Karena cinta telah cukup bagi cinta.
Pabila kau mencintai kau takkan berkata, “Tuhan ada di dalam hatiku,”
Tapi sebaliknya, “Aku berada di dalam hati Tuhan”.
Dan jangan mengira kaudapat mengarahkan jalannya Cinta,
Sebab cinta, pabila dia menilaimu memang pantas, mengarahkan jalanmu.
Cinta tak menginginkan yang lain kecuali memenuhi dirinya.
Namun pabila kau mencintai dan terpaksa memiliki berbagai keinginan,
Biarlah ini menjadi aneka keinginanmu:
Meluluhkan diri dan mengalir bagaikan kali,
yang menyanyikan melodinya bagai sang malam.
(Kahlil Gibran)
